Jaul Beli Fasilitas Di Sel Polda NTB Berhasil Di Ungkap Oleh Jaksa

Banyak Bonus Menanti Anda, Hanya Dengan Bergabung Bersama Kami. Silahkan Saja Langsung Klik Disini Untuk Dapatkan Bonus Yang Melimpah Dari Kami

Jaul Beli Fasilitas Di Sel Polda NTB Berhasil Di Ungkap Oleh Jaksa – PN Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengadakan sidang pertama masalah suap dari tahanan Rutan Polda NTB, dengan terdakwa Kompol Tuti Mariati. Sidang beragendakan pembacaan tuduhan.

Sidang di pimpin Hakim Ketua Sri Sulastri dengan anggota Fathurrauzi serta Kekal dengan jadwal pembacaan tuduhan oleh Jaksa Penuntut Umum, Marollah. Dalam jadwal pembacaan dakwaannya, terdakwa Kompol Tuti terlihat dibarengi team penasihat hukumnya, Edy Kurniadi serta Marhaeni.

Penuntut umum dalam dakwaannya, mengatakan terdakwa Kompol Tuti sudah melanggar sumpah serta janjinya jadi aparat penegak hukum tidak untuk terima pungutan dari faksi mana saja.

Klaim Bonus Deposit 10% Dan Seterusnya, Bonus Cashback 5% Tiap Minggunya, Bonus Rollingan 0.7%, Bonus Referensi Teman 5% Hanya Dengan Deposit 50 Ribu

Lihat Kontak Kami Klik Disini :

“Jika terdakwa sudah memaksakan saksi yang disebut tahanan Rutan Polda NTB untuk memberi suatu padanya,” kata Marollah seperti dikutip Di antara, Selasa (9/7/2019).

Satu diantara bukti, jelas Marollah, didapat dari info saksi Azhari, seseorang tahanan narkoba yang mendekam di Rutan Polda NTB.

Dalam uraiannya, diutarakan jika terdakwa Kompol Tuti minta Azhari keluarkan ongkos Rp 300 ribu untuk pemakaian telefon pegang sepanjang ada di Rutan Polda NTB.

“Dalam infonya, saksi Azhari menjelaskan jika uang Rp 300 ribu diserahkan kepada terdakwa, serta disuruh untuk diam-diam serta jangan pernah terlihat camera CCTV saat memakai HP (handphone),” katanya.

Sesudah memperoleh izin dari terdakwa Kompil Tuti, saksi Azhari dipindahkan ke kamar tahanan di lantai dua. Tetapi sebab kurang kerasan dengan keadaan kamar tahanannya yang baru, saksi Azhari minta untuk dikembalikan ke kamar tahanan di lantai satu.

“Untuk geser kamar tahanan ini, saksi Azhari kembali disuruh terdakwa membayar Rp 500 ribu. Uang itu selanjutnya diberi saksi Azhari di ruangan kerja terdakwa di lantai dua,” katanya.

Hal sama ikut dikatakan dalam bukti info saksi Firman Ramadani, seseorang tahanan narkoba. Ia disuruh untuk membayar Rp 300 ribu sebab tertangkap tangan memakai telephone pegang di rutan.

“Dengan tawarkan uang Rp 100 ribu yang cuma dipunyai saksi Firman Ramadani, terdakwa juga menerimanya serta kembalikan HP-nya serta diperbolehkan untuk memakai,” tuturnya.

Selanjutnya ada kesaksian seseorang tahanan bernama Sarifudin alias Abu. Pada terdakwa, Abu menyerahkan uang Rp 750 ribu untuk memperoleh izin memakai matras di kamar tahanannya.

“Awalannya, matras punya saksi Sarifudin alias Abu, disuruh terdakwa untuk dibayarkan Rp 1 juta, jika tidak dibayarkan, saksi diancam mendekam di sel tikus yang ada di lantai atas,” katanya.

Tetapi sesudah ditawar, saksi Sarifudin alias Abu diberi kemudahan untuk membayar Rp 750 ribu dalam 2x pembayaran, yaitu pada kunjungan pertama Rp 500 ribu serta paling akhir Rp 250 ribu.

Selanjutnya yang menarik berkaitan terdapatnya info saksi Dorfin Felix, tahanan narkoba asal Perancis yang sudah sempat kabur dari gedung Rutan Polda NTB.

Tetapi dalam masalah pelariannya yang selanjutnya membuka tingkah Kompol Tuti ini, penuntut umum cuma menguraikan masalah info uang yang diterima Dorfin di luar negeri lewat penghubung terdakwa Kompol Tuti.

Tidak ada info yang menerangkan masalah keterkaitan terdakwa Kompol Tuti dalam modus pelarian Dorfin dari Gedung Rutan Polda NTB.

“Lewat terdakwa, saksi Dorfin terima uang di luar negeri dalam dua periode penerimaan,” kata Marollah.

Penerimaan pertama, tuturnya, terdakwa Kompol Tuti mengambil Dorfin uang sebesar Rp 7,9 juta. Uang itu selanjutnya dimintakan untuk beli HP android seharga Rp 2 juta serta kartu pertama seharga Rp 100 ribu.

“Ada pula satu unit tv yang di taruh di kamar tahanan saksi Dorfin,” katanya.

Demikian dengan kontrol kedua-duanya, dengan memakai layanan terdakwa, saksi Dorfin terima uang sebesar Rp 7,6 juta.

Selanjutnya, masalah punya terdakwa Kompol Tuti diserahkan ke meja persidangan dengan jeratan tiga tuduhan, dari mulai tuduhan primair, subsidair, serta lebih subsidair.

Dalam tuduhan terdakwa Kompol Tuti dijaring dengan Masalah 12 Huruf e serta atau Masalah 12 Huruf b serta atau Masalah 11 Juncto Masalah 12A Ayat 1 serta Ayat 2 UU RI Nomer 20/2001 mengenai pergantian atas UU RI Nomer 31/1999 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Masalah 65 KUHP.

Mengenai Dorfin sekarang sudah dijatuhi hukuman mati sebab bawa sabu lebih dari 2 kg di luar negeri.

You might also like